Menekan alih fungsi lahan pertanian di Kota Denpasar yang belakangan ini marak dijadikan pemukiman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar membentuk subak Lestari bekerjasama dengan dengan tim dari Universitas Udayana (UNUD).
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar , I Gede Ambara Putra di dampingi Kepala Bidang Produksi, Rabu (9/11) kemarin mengatakan, pembentukan Subak Lestari bukan Dinas Pertanian saja yang memiliki peranan, melainkan semua komponen dan SKPD (satuan kerja perangkat daerah), SKPD terkait di lingkungan Pemkot Denpasar Seperti masalah PBB di tangani Dispenda, masalah Awig-awig atau balai subak di tangani Dinas Kebudayaan, PU (Pekerjaan Umum) menangani masalah irigasi. Sementara pengembangan Pariwisata akan di tangani Disparda, dan Eko Wisata di tangani Badan Lingkungan Hidup (LH), Mina Padi oleh Dinas Perternakan dan Kelautan, Koperasi Tani oleh Dinas Koperasi. “Kalau masalah pertanian (bibit/benih, pupuk, alsintan) ditangani Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar” kata Ambara Putra.
Menurut Ambara Putra, hasil pertanian di kawasan Subak Lestari ini akan ditampung sehingga petani tidak merasa kesulitan menjual hasil panennya dimana Dinas Pertanian akan menangani masalah pertanian dari hulu sampai ke hilir sehingga akan ada MoU antara petani dan penyosohan beras.
Dia mengungkapkan, percontohan Subak Lestari di Kota Denpasar akan diberi nama Made Ayu Intan meliputi Subak Uma Desa, Subak Anggabaya, Subak Uma Layu berada di Kecamatan Denpasar Timur. Sedangkan dua subak lagi berada di kecamatan Denpasar Selatan, yakni Subak Intaran Barat dan Subak Intaran Timur. ”lima subak yang dijadikan percontohan luasnya 196 hektar untuk mempertahankan lahan pertanian tidak beralih fungsi menjadi pemukiman, “ujar Ambara Putra”
Ambara Putra menjelaskan luas lahan pertanian terutama sawah di Kota Denpasar masih produktif mencapai 2.479 hektar. Kaerena Pemerintah Kota Denpasar sudah mensuport bebas PBB (Pajak Bumi Bangunan) sehingga para petani dapat menggarap lahannya tanpa memikirkan beban pajak yang tinggi. Karena di Kota Denpasar sedang mengembangkan varietas Situbagendit yang hasilnya cukup bagus dan nasinya juga enak. “kita sudah hampir 15 tahun menggunakan varietas Cigelis dan Ciherang sekarang di ganti dengan varietas terbaru Situbagendit untuk memutus rantai hama penyakit. Selain itu, musim tidak menentu dan debit air kecil karena varietas ini lebih unggul”, paparnya
Kabid Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Ida Bagus Mayun Suryawangsa menambahkan pergantian varietas Ciherang dan Cigelis dengan varietas Situbagendit sudah lama tidak dilakukan karena kedua varietas ini rentan terhadap serangan hama penyakit dan hasil produksinya juga menurun.
Mayun Suryawangsa mengemukakan, varietas Situbagendit Tahun 2016 dem area kurang lebih 800 hektar tersebar di empat wilayah kecamatan. Paling banyak varietas baru ini ditanam terkait Subak Lestari. Di kecamatan Denpasar Timur menjadi rintisan dan percontohan dalam rangka menahan laju alih fungsi lahan pertanian. “Program Pemkot Denpasar terkait pertanian tetap mengacu Pemerintah pusat. Mendukung swasembada pangan Tahun 2017. Intinya kita tetap pioritas dan strategis mendukung swasembada pagan nasional “, ucap Mayun Suryawangsa.
16 Oktober 2025