Subak Intaran Barat Dinilai Tim Evaluasi Penerapan Teknologi Usahatani
Ketahanan pangan tidak lepas dari peran subak menghasilkan komoditi pangan. Sebagai komoditi strategis, padi memegang peranan penting dalam permasalahan ketahanan pangan di Indonesia. Padi merupakan komoditi pokok dan merupakan bahan pangan konsumsi sehari-hari bagi penduduk Indonesia sehingga peran padi sebagai pengawal program ketahanan pangan mesti dijaga. Diperlukan sebuah upaya untuk tetap mempertahankan padi sebgai komoditas strategis ketahanan pangan. Salah satnya dengan Evaluasi dan Pembinaan penerapan teknologi usahatani padi. Dengan kegiatan tersebut akan diperoleh suatu acuan, gambaran mengenai situasi komoditas padi di suatu daerah/subak. Dengan berbekal hal tersebut, maka pada hari Selasa, 27 Juli 2010 bertempat di Subak Intaran Barat, Desa Sanur Kauh Kecamatan Denpasar Selatan dilaksanakan kegiatan Evaluasi dan Pembinaan Penerapan Teknologi Usahatani Padi yang dilaksanakan oleh Tim dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar. Demikian disampaikan Ir. I Gede Ambara Putra, selaku Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, di saat setelah memberi sambutan dalam kegiatan tersebut.
Ir. Saddy Rosady, dari Tim Evaluasi Provinsi mengatakan bahwa penerapan teknologi usahatani yang dilakukan oleh petani di Subak Intaran Barat ini sudah baik, namun masih diperlukan perbaikan-perbaikan yang lebih lanjut. Saddy Rosady menambahkan, dalam penerapan pola intensifikasi perlu dilakukan lebih cermat, seperti pemilihan benih sebaiknya direndam terlebih dahulu dengan air yang diberi garam, benih yang tenggelam menunjukkan benih yang baik. Hal yang lain perlu diperhatikan adalah, jerami sisa panen sebaiknya jangan dibakar melainkan dibenam dalam tanah namun sebelumnya perlu dilapukkan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan unsur nitrogen dalam tanah. Lebih lanjut Rosady menambahkan, mengenai produktivitas Subak Intaran Barat mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 6,8 ton/Ha Gabah Kering Giling (GKG) menjadi 7,14 ton/Ha Gabah Kering Giling (GKG) atau 8,25 ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP) berdasarkan pengukuran hasil ubinan yang dilakukan oleh tim evaluasi.. (par)