Menu

Siasati Lahan Sempit dengan Budidaya Jamur Tiram dan Anggrek Potong

  • Selasa, 25 Januari 2011
  • 6387x Dilihat
Demi menyiasati lahan pertanian yang kian sempit akibat alih fungsi lahan di Kota Denpasar, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar punya strategi jitu. Selain tetap menjaga produksi padi dan palawija tetap tinggi, kini tengah dikembangkan budidaya Jamur Tiram dan Anggrek Potong. Bahkan budidaya Jamur Tiram yang telah dimulai awal Tahun 2010 lalu, kini sudah banyak peminatnya. Sasarannya diarahkan untuk dapat merangsang minat generasi muda menggeluti bidang pertanian. “Ternyata respon para generasi muda sangat positif, walaupun awalnya kita rangsang dengan bantuan bibit dan rumah produksi. Saat ini bantuan sudah mulai kita kurangi”, terang Ir. I Gede Ambara Putra, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar. Budidaya jamur tiram tidak memerlukan lahan luas dan biaya yang besar. Dan soal pemasaran hasil, tidaklah terlalu sulit, karena jamur tiram kini telah dikenal masyarakat, jadi masyarakat yang datang langsung ke tempat budidaya Jamur Tiram. “Untuk pesanan dari luar, malah kami agak kesulitan memenuhi permintaannya, tapi mudah-mudahan setelah selesai 4 bangunan lagi untuk budidaya jamur, semua permintaan akan terpenuhi”, jelas salah seorang pemuda penggiat budidaya jamur di Desa Peguyangan Kaja, I Made Surya Permana. Diakui Surya, masyarakat Desa Peguyangan Kaja, khususnya Banjar Benbiu, sangat berterima kasih kepada pemerintah Kota Denpasar, khususnya Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar. Karena dengan adanya program pembudidayaan jamur tersebut, para generasi muda disana jadi lebih kreatif dan inovatif. “Bila produk jamur ini sudah surplus, maka nanti saya ajak masyarakat sekitar untuk membuat keripik jamur dan produk jamur lainnya”, tegas I Wayan Sutama, Kepala Desa Peguyangan Kaja. Sama halnya dengan Budidaya Anggrek Potong, yang dikembangkan di daerah Denpasar Selatan. Salah satu komoditas unggulan Pertanian ini, dikelola oleh kelompok pemuda dan mendapat binaan dari Penyuluh Pertanian setiap minggunya. Harapannya setelah berhasil dapat menularkan kepada kelompok pemuda lainnya, sehingga sasaran untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda kepada bidang pertanian dapat terwujud. Budidaya tanaman hias lainnya juga turut dikembangkan. Sejalan dengan persiapan Kota Denpasar yang akan menjadi tuan rumah Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) 2011. Kepercayaan yang diberikan Pemerintah Pusat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Denpasar untuk terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman hortikultura. Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar dalam mengembangkan pertanian kreatif dan inovatif. Misalnya menyediakan SLGAP (Sekolah Lapang Good Agriculture Practise), peserta diajak belajar langsung di lapangan untuk mengetahui teknik mengembangkan tanaman hortikultura. Hasilnya cukup menggembirakan. Kelompok-kelompok yang ada menjadi mandiri, bahkan mereka kewalahan memenuhi permintaan pasar. Selain untuk tanaman hortikultura, Sekolah Lapang juga disediakan bagi penggiat tanaman padi dan palawija, yakni SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) dan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu). Dengan hadirnya sekolah lapang ini serta diterapkannya tertib tanam, tertib pola tanam dan tertib pupuk berimbang, gangguan hama dapat ditekan sehingga produksi padi di Kota Denpasar dapat mencapai 8 ton/ha. Bahkan baru-baru ini Kota Denpasar mendapat penghargaan dari Kementrian Pertanian karena mampu meningkatkan produksi padi dari tahun sebelumnya. Yang lebih membanggakan adalah salah satu Petugas OPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Ratu Paulina, mendapat penghargaan sebagai POPT terbaik tingkat Nasional. “Semoga semua penghargaan ini menjadi pecut bagi kita untuk dapat berbenah dan selalu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat”, imbuh Ir. I Gede Ambara Putra.