Menu

Denpasar Menuju Organik

  • Senin, 02 Mei 2016
  • 2637x Dilihat

        Pertanian organik lahir adanya protes dari konsumen akan banyaknya residu bahan kimia beracun pada produk pertanian (kesehatan/sosial). Adanya kesadaran masyarakat mengenai bertani yang ramah lingkungan, serta adanya ketertarikan produsen untuk berbisnis produk pertanian organik. Alasannya karena dihargai lebih mahal dari pada produk konvesional. Oleh karena itu, pertanian organik merupakan integrasi dari faktor lingkungan, ekonomi dan sosial/kesehatan. Pada tahun 2016 ini, dengan mulai diberlakunanya pasar bebas untuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dimana produk-produk negara ASEAN akan bebas memasuki pasar Indonesia. Termasuk produk organik, karena standar organik untuk ASEAN sudah dibuat ASEAN Standar Organic Agriculture (ASOA). Selain itu pemerintah pusat dengan Nawacita yakni salah satu mewujudkan "seribu desa organik". Oleh karena itu, diperlukan suatu pedoman atau petunjuk pelaksanaan pertanian organik bagi semua pemangku kepentingan. Untuk menangkap berbagai kelebihan, terutama menciptakan gaya hidup sehat Pemerintah Kota Denpasar menuju pertanian organik. Apa saja yang dilakukan untuk mengajak para petani perkotaan mau membudidayakan komuditas yang diinginkan secara organik? Berikut laporannya. 
       Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Ir. I Gede Ambara Putra, MAg., menerangkan pemerintah Kota Denpasar mulai lima tahun sudah mencanangkan pertanian menuju organik. Untuk mendapatkan hasil yang benar-benar organik cukup sulit. Perlu proses dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk itu, arahan dari pimpinan dalam hal ini Walikota Denpasar, IB Rai D. Mantra agar mengajak para petani mencintai produksi sehat. Mulai dari melakukan penyadaran kepada masyarakat untuk menkonsumsi produk sehat, sehingga dalam budidaya secara bertahap menuju organik. 
'' Sebenarnya pertanian organik bertujuan untuk menciptakan agroekositem yang optimal. Dan lestari berkelanjutan baik secara sosial, ekologi maupun ekonomi dan etika. Sistem pertanian organik dirancang untuk mengembangkan keanekaragaman hayati, meningkatkan aktivitas biologi tanah, menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, mendaur ulang limbah asal tumbuhan dan hewan untuk mengembalikan nutrisi kedalam tanah. Meningkatkan penggunaan tanah, air dan udara secara baik. Serta meminimalkan segala bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian non organik,'' jelasnya sambil menyebutkan pertanian organik lebih menjaga lingkungan yang sehat. 
         Ambara menambahkan, pemerintah Kota Denpasar telah membuat deplot atau percontohan di beberapa titik wilayah. Mulai dari bertani semi organik sampai total organik. Ada beberapa petani yang memilikoi lahan yang cukup luas dapat melaksanakan aktivitasnya sebagai petani organik. Hasilnya sangat bagus, selain hasil produksi juga hasil nilai tambah produk (nilai jual lebih mahal). Seperti di seputaran Padang Galak Denpasar timur telah dikembangkan beberapa komoditi pertanian organik. Seperti buah naga, melon, semangka dan aneka sayuran. Di Subak Sembung Denpasar Utara juga telah dikembangkan pertanian organik jenis padi. Dengan melibatkan langsung pendaping dari perusahan yang siap membeli hasil petanian  organik. 
         ''Kami dari pemerintah sangat mendukung pertanian menuju organik ini. Karena kami setiap tahunnya telah menganggarkan dana untuk bantuan pupuk organik kepada petani yang mau mengembangkan pertanian menuju organik. Bahkan setiap tahun digelontor bantuan pupun sampai 100 ton. Jika petani minta lebih, pemerintah siap menambahnya lagi,'' tegasnya sambil menyebutkan pemerintah akan mempasilitasi dibidang produksi sampai pemasaran. Sementara pemerintah mengajak petani langsung sebagai pemilik tanah. Sehingga memudahkan petani tersebut menularkan dan mengajak petani lainnya. 
Salah seorang petani organik Agung Sanjaya yang membudidayakan padi di Subak Sembung Denpasar, sangat mengapresiasi pemerintah Denpasar, melalui Dinas Pertaniannya sangat membantu petani organik. Dukungan dengan memberikan pembinaan dan bantuan pupuk organik sangat meringankan beban petani. Kemuddian bukan hanya itu dorongan pemerintah, bahkan dicarikan pendampingan sekaligus pemasaran produk. ''Kami kelompok petani di Subak Sembung mendapat pendapingan dari perusahana dibidangnya. Kami diberikan teknik budidaya organik. Kemudian kami diarahkan untuk mengkonsumsi hasil pertanian sehat ini untuk gaya hidup sehat. Kemudian jika ada hasil lebih, perusahan pendamping siap membelinya dengan harga lebih mahal dari beras hasil konvesional,'' jelasnya sambil menyebutkan sekarang ini dapat menjual beras organik sampai Rp 28 ribu perkilogram. 
          Salah serorang pendamping petani organik, Ir. Ida Bagus Gede Arsana dari PT. Bali SRI Organik (BSO) menjelaskan sampai saat ini telah mendampingi petani organik seluas 15 hektar. Pada penanaman tahap awal memang terjadi biaya produksi lebih tinggi berkisaran 30 persen dari bertani konvensional. Kemudian tahapan berikutnya akan terjadi penurunan, sampai penanaman ke empat kalinya para petani sudah tidak mengeluarkan biaya prkduksi, hanya perlu tenaga saja. Sedangkan pupuk sudah dapat dibuat sendiri. ''Juga hasil produksi pada penanaman tahan pertama akan berkurang dari hasil konvensional, tapi setelah penanaman selanjutnya akan terus meningkat sampai hasilnya sama dengan sebelumnya. Kami melakukan pendampingan bukan hanya sekadar bisnis belaka. Kami mengajak dengan bertani organik akan dapat hidup sehat. Maka itu, petani organik kami sarankan untuk mengkonsumsi hasil organiknya agar dapat hidup sehat. Kemudian bagi petani organik yang memiliki lahan luas, hasilnya juga lebih banyak. Maka kami juga siap membantu membelinya,'' ujarnya sambil mengakui setiap petani sangat menginginkan pasar yang jelas. Sehingga petani akan semangat melakukan aktivitasnya. 
Pengamat pertanian sekaligus dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Ir. Mangku Pasek dilihat dari organik atau tidak produk pertanian, bukan dari hasil akhir. Lebih ke bagaimana proses budidaya. Pertanian organik atau lebih tepatnya disebut sebagai pertanian organis secara sederhana diartikan sebagai sikap (attitude) atau tingkah laku (behaavior) dari petani dalam melaksanakan sistem bertani yang ramah loingkungan. Dengan cara memanfaatkan bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia, sintentis serta hasil rekayasa genetik.  Dengan demiikian, yang ditekankan dalam sistem prrtanian organik bukanlah hasil ahkir (end product) melainkan proses produksinya yang berkaitan dengan sikap petani menghasilkan produk pertanian. Oleh karena itu, dalam kegiatan sertifikasi, yang di sertifikasi adalah prosesnya bukan produk akhir. Dari proses, sehingga tidak bisa petani membawa hasil panen (produk). Hasil produksi dibawa ke laboratorium untuk diperikaaa status keaslian organikannya. Pemeriksaan di lab mengenai kandungan bahan kimia pastisida tanah, air ataupun lainnya tidak perlu dilakukan. Kecuali terdapat kecurigaan dari lembaga sertifikasi organik (LSO). Misalkan adanya presidu pada buah atau daun, adanya pupuk atau benda menyerupai pupuk pada perakaran tanaman atau hal lainnya. 
          Lebih lanjut Mangku Pasek menegaskan sama halnya dengan produk akhir suatu hasil pertanian tidak dapat dinyatakan organik. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lab, tetapi yang diperiksa adalah prosesnya untuk mendapatkan produk tersebut. Pertanian organik tidak dapat menjamin 100 persen terbebas dari residu bahan beracun seperti pestisida. Hal ini dikarenakan adanya hal-hal diluar kemampuan petani unrtuk menghindarinya. Misalnya pencemaran lewat udara. Dari pestisida yang dapat terbawa jauh tinggi ke udara dan turun di suatu tempat. Pada prisip pertanain organik bahwa petani tidak menggunakan bahan yang dilarang dalam pertanian organik dan berusaha mencegah atau meminimalisir terjadinya kontaminasi serta praktik budidayanya sesuai dengan standsar pertanian organik yang berlaku. ''Kami sangat setuju jika pemerintah Denpasar berkomitmen mengembangkan pertanian menuju organik. Tinggal pemerintah melakukan pendampingan pada petani. Karena pasar sangat luas, di Bali menjadi destinasi wisatawan dunia. Dimana wisawatannya sangat menghargai produk sehat seperti organik. Tinggal petani dicarikan link pasar saja,'' tandasnya.